Stefanus Banal

Tanggal Lahir30/05/1986
DakwaanPasal 170 (1) KHUP
Tanggal Penahanan19/05/2013
Ringkasan KasusStefanus Banal adalah salah satu dari 11 orang yang ditangkap dalam penggerebekan polisi di Oksibil di Pegunungan Bintang. Dia menderita cedera berat akibat ditembak oleh polisi pada saat penggerebekan tersebut. Pihak penjara telah menolak untuk membayar perawatan medis.
VonisSatu tahun dan tujuh bulan penjara
KeprihatinanPenahanan sewenang-wenang, Ditolak akses ke perawatan medis, Penganiayaan dalam tahanan, Persidangan tidak adil
Ambil Tindakan
Stefanus Banal

Pada tanggal 19 Mei 2013, 11 orang ditangkap oleh polisi Oksibil di kabupaten Pegunungan Bintang pada saat penggerebekan polisi. Penggerebekan itu dilakukan dua jam selepas serangan pembakaran oleh penduduk setempat di Polres Pegunungan Bintang. Warga dilaporkan menyerang  polres dalam menanggapi insiden sebelumnya pada tanggal 15 Mei 2013 di mana seorang warga bernama Leo Klasikmabin ditahan secara sewenang-wenang dan disiksa oleh polisi.

11 orang yang ditangkap adalah Stefanus Banal, Isaias Taplo, Agus Yamsin, Nesius Kalaka, Wilem Alwolmabin, Yakob Alia, Ruben Sitokmabin, Kelly Sasaka, Manu Wambongko, Ery Kalakmabin dan Manu Kalakmabin. Stefanus Banal, yang dilaporkan tidak terlibat dalam serangan itu, ditembak di kaki dan menderita luka parah dalam penggerebekan polisi tersebut.

Ia dibawa ke Rumah Sakit Oksibil Pegunungan Bintang untuk operasi darurat dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura di mana ia menerima perawatan lebih lanjut selama lima minggu. Perawatan medis yang diterimanya di Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura tampaknya tidak memadai. Operasi untuk mengeluarkan batang besi yang dimasukkan untuk memperbaiki tulang kakinya yang patah ditunda selama enam bulan oleh dokter rumah sakit. Seterusnya, ia ditahan di Polda Papua selama dua bulan dan satu minggu. Dia kemudian diberikan hukuman satu tahun dan tujuh bulan penjara di LP Wamena.

Dalam penahanan di LP Wamena, polisi dan pihak pemerintah setempat telah mengabaikan tanggung jawab mereka untuk memberikan perawatan medis yang memadai untuk Banal. Sebaliknya, keluarganya dibebankan dengan semua biaya medis. Ia dipindahkan ke LP Abepura pada bulan Februari tahun 2014, di mana ia akan menjalani baki hukumannya. Pihak LP Abepura dilaporkan menyatakan bahwa mereka tidak akan memenuhi biaya medis karena mereka memandang ini sebagai tanggung jawab keluarganya. Aktivis setempat melaporkan bahwa keluarga Banal telah kembali ke Oksibil di kabupaten Pegunungan Bintang untuk mengumpulkan dana bagi obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan tulang kakinya yang patah serta operasi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan batang basi yang dipasang, karena mereka tidak mampu membayar biaya sendiri. Penghidupan keluarga Banal, istri dan empat anak-anak, telah terkena dampak sejak penahanannya.

Mengikut informasi dari seorang aktivis setempat, sementara beberapa dari sepuluh orang lain ditangkap terlibat dalam serangan pembakaran pos polisi itu, ada yang lain seperti Banal yang tidak keterlibatan langsung dalam kejadian itu.Karena kesulitan memperoleh informasi dari Pegunungan Bintang, persis rincian tetap tidak jelas. Menyusul penangkapan mereka, sepuluh orang tersebut ditahan di Polres Pegunungan Bintang selama dua bulan sebelum dan didakwa dengan pasal 170 untuk kekerasan terhadap orang atau barang. Mereka dihukum satu tahun penjara dan tujuh bulan dan saat ini sedang menjalani hukuman penjara mereka di LP Wamena.

Sumber

Email dari warga setempat, 9 Mei 2013

Email dari pekerja HAM setempat, Mei – April 2013

Laporan diterima melalui email dari HAM setempat berjodol, “Kekerasan Militer Terhadap Warga Sipil di Kabupaten Pegunungan Bintang dan Kabupaten Kerom,” 26 February 2014

“Warga di Oksibil bakar kantor polisi,” Tabloid Jubi, 16 Juni 2013, http://tabloidjubi.com/2013/06/16/warga-di-oksibil-bakar-kantor-polisi/

Terakhir diperbarui: 23 April 2014

FacebookTwitterGoogle+Share